Home / OPINI / Jalan Berliku Temukan Kedatu’an Sriwijaya

Jalan Berliku Temukan Kedatu’an Sriwijaya

Oleh : Faldy Lonardo

Setalah melihat dari alur perjalanan Kerjaan Sriwijaya atau sekarang di sebut Kedatu’an Sriwijaya, penulis mencoba melihat kembali sisi lain yakni perkembangan baca tulis pada zaman Sriwijaya, hingga mempertanyakan kemana hilangnya tulisan – tulisan atau karya dari ahli – ahli Sriwijaya dan menentukan akar bermula Sriwijaya ada.

Penulis kali ini sengaja menampilkan, sumber – sumber yang diambil dari internet, dimana harapan dari penulis bahwa pembaca artikel ini, bisa melihat langsung sumber – sumber tersebut dan mampu menelaah sendiri seperti apa rumitnya sejarah dahulu apabila semua sumber di dunia Maya  berbeda pandangan saat kita ingin mendapatkan informasi mengenai Sriwijaya, supaya minimal pembaca bisa merasakan kegelisahan penulis saat ingin mencari tahu tentang akar Sriwijaya yang mana menjadi kebanggaan dari kota tempat penulis tinggal.

Secara umumnya, prasasti yang di duga dibuat dimasa Sriwijaya, yang ditemukan pada abad 20 awal hingga sekarang, banyak di dominasi penggunaan huruf Pallawa dan berbahasa Melayu serta bahasa Sansekerta.

Penulis mengawalinya dengan Huruf Pallawa, dimana menurut Wikipedia, secara umum kadang ditulis “Pallava” yakni sebuah aksara yang berasal dari India bagian selatan. Aksara ini sangat penting untuk sejarah di Indonesia karena aksara ini merupakan awal aksara – aksara Nusantara diturunkan.

Sementara itu, Tsai Lun lah yang menurut Wikipedia, menemukan kertas pertama kali dari bahan bambu yang mudah didapat di seantero China pada tahun 101 Masehi, selanjutnya abad ke 2, dan dalam beberapa abad saja Cina sudah sanggup mengekspor kertas ke negara-negara Asia.Lama sekali Cina merahasiakan cara pembikinan kertas ini. Hingga di tahun 751M, beberapa tenaga ahli pembikin kertas tertawan oleh orang-orang Arab sehingga dalam tempo singkat kertas sudah diproduksi di Bagdad dan Sarmarkand.

Bukti otentik pertama tentang aksara di Nusantara adalah Prasasti Mulawarman di Kutai Kalimantan Timur, yang berasal dari abad ke 5 Masehi dan Prasasti Bukti tulisan terawal yang ada di Jawa Barat, sekaligus pulau Jawa yakni Prasasti Tarumanagara pulau yang berasal dari pertengahan abad ke 5 (400 M – 499 M), juga ditulis menggunakan aksara Pallawa.

Selain itu, untuk menambah gizi dari tulisan ini, penulis mencoba untuk mengupas sedikit saja tentang dugaan terlepasnya Pulau Jawa dan Sumatera diambil dari kitab Pustaka Raja Purwa karya Pujangga Ronggowarsito yang menyebutkan Jawa dan Sumatera terpisah akibat letusan Gunung Kapi (teridentifikasi sebagai Gunung Krakatau) pada tahun 416 Masehi.

Seterusnya yakni bahasa Melayu Kuno, yang menurut Wikipedia merupakan anggota rumpun bahasa Austronesia dan dianggap sebagai salah satu bentuk awal (proto) bagi bahasa Melayu modern. Bahasa Melayu Kuno (MK) berdasarkan catatan-catatan tertulis pernah dipakai sekitar abad ke-7 hingga abad ke-13, yaitu pada zaman berkuasanya Wangsa Sailendra di Kerajaan Medang dan Kerajaan Sriwijaya.

Jadi bisa di pahami beberapa definisi dan sumber yang disajikan penulis, menjelaskan apabila di abad ke 4, Sumatera dan Jawa belum terpisah masih membentuk satu kesatuan yakni Nusantara, dimana di era tersebut mengindikasikan sudah ada bahasa dan tulisan beraksara Pallawa yang diduga dari India bagian selatan dan digunakan untuk berkomunikasi di Nusantara dan telah ada penggunaan kertas dimasa itu dan tentunya belum ada Sriwijaya.

Kemudian apabila merujuk pada catatan dari negara lain, hanya bangsa Arab yang berhasil mengabadikan Korespondensi berupa surat bertarikh 718 M antara Kerajaan Sriwijaya dengan Kekhilafahan Bani Umayyah, yang di tulis langsung oleh raja Sriwijaya yakni Sri Indrawarman, selebihnya tak ditemukan lagi surat dari Sriwijaya atau kitab apa pun yang di tulis oleh orang – orang Sriwijaya.

Saat penulis mengatakan dan memunculkan pertanyaan, apakah tidak ada bukti lain yang mungkin saja terlupakan dari penjelajahan Sriwijaya oleh para ahli, seperti misalnya buku atau kitab dan surat menyurat didalam mesin pencari internet dan beberapa sumber lain tidak pernah nyebut hasil temuannya selain surat Sri Indrawarman Raja Sriwijaya.

Ini menjadi satu tanda tanya besar, karena penulis berkeyakinan saat membaca kembali perjalanan I tshing ke Shi Li Pho shi dimana dirinya menulis “Ibu kota (Fo-shih) adalah pusat pembelajaran agama Buddha di antara pulau-pulau di Laut Selatan. Di sana terdapat lebih dari seribu biksu “, hal ini bisa dikatakan terdapat banyak kitab di Sriwijaya karena menjadi pusat pembelajaran terbesar pada masanya.

Hal Kedua masih dalam surat kerajaan Sriwijaya untuk Bani Umayyah, seperti tertulis “Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum hukumnya.” yang penulis bisa pahami dalam kata terakhir ” tentang hukum – hukumnya,” sebagai suatu pengertian yang dalam tentang susunan hukum tertulis telah ada di masa Sriwijaya dan mungkin kalau bisa di analogikan, aturan mengenai hukum sudah ada dan dikitabkan sama halnya seperti panduan dalam menentukan hukum di daerah yang sudah ada struktur negaranya.

Jadi dari berbagai sumber diatas, penulis mencoba mengambil suatu kesimpulan bahwa baca dan tulis sudah ada sebelum Sriwijaya ada, kertas mulai diedarkan oleh Bangsa Cina pada abad ke 2 , kemudian di Abad ke 8 Arab mulai memproduksi kertas secara besar – besaran, Sriwijaya adalah tempat belajar, namun naskah baik surat menyurat dan kitab dari ahli Sriwijaya belum ditemukan, padahal Kedatuan ini ada dari abad ke 7 dan berakhir pada abad ke 13, jadi ada rentang kurang lebih 6 abad atau 600 tahun, dimana  alur sejarah baik huruf, tulisan dan media kertas sudah ada, tapi sampai saat ini tidak ada surat atau karya lain dalam media kertas, selain yang di tulis Sriwijaya untuk Khalifah Bani Umayyah.Kemana lenyapnya bukti – bukti sejarah itu?.

Begitulah identitas umum dari sejarah Sriwijaya, yang bisa diterima dan ditemukan oleh masyarakat pada umumnya selain prasasti, candi dan barang temuan di era Sriwijaya, namun seandainya masyarakat ingin mencari sumber dengan panduan android atau handphone pintar, maka akan ditemui berbagai banyak data sehingga membuat kerancuan saat memulai penjelajahan sejarah Sriwijaya, seperti yang penulis alami saat pencarian lewat media internet.

Berangkat dari hal itu, penulis sangat berharap, ada panduan khusus yang bisa di yakini pembaca untuk menyusuri alur sejarah, khususnya Kedatuan Sriwijaya dan penulis juga berharap peran serta seluruh stakeholder yang berkecimpung dalam dunia kesejarahan dan kebudayaan, untuk mampu memberikan suatu pencerahan atas hal itu sebagai salah satu upaya untuk pencerdasan bangsa.

Dan di akhir paragraf ini, penulis sangat bersyukur Allah SWT memiliki cara tersendiri menyelamatkan surat Sri Indrawarman tersebut meski penulis sendiri belum pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri, karena bukti itu kini tidak di tempat Penulis tinggal yakni Kota Palembang, yang mana dari surat itu, mungkin saja sebagai salah satu kunci identitas sejarah Kedatu’an Sriwijaya yang pernah ada di Nusantara ini.

Penulis adalah salah satu pencinta dan pemerhati sejarah.

About redaktur

Check Also

Acara Siberkreasi “Creator Generation” Buktikan Kreatifitas Para Kreator Palembang

VOSMedia, PALEMBANG – Siberkreasi berkolaborasi dengan Kitogalo.com menggelar event Workshop “Creator Generation” Goes to Palembang, …