Home / SEJARAH / Merawat Sriwijaya, Bagaimana Sikap Kita ?

Merawat Sriwijaya, Bagaimana Sikap Kita ?

VOSMedia, PALEMBANG – Kedatuan Sriwijaya pasca ungkapan fiktif dari budayawan Ridwan Saidi, tentunya ada sisi nilai positifnya, dimana pernyataan itu menimbulkan kembali gairah untuk mengenal dan memahami apa yang ditinggalkan Kedatuan Sriwijaya bagi Palembang Sumatera Selatan dimana kota ini telah ditetapkan menjadi pusat kedatuan Sriwijaya dengan mendasar pada tiga prasasti tinggalan yakni Prasasti Kedukan Bukit, Prasasti Talang Tuo dan Prasasti Telaga Batu.

“Sebenarnya kalau dilihat dari tinggalan – tinggalan Kedatuan Sriwijaya terutama yang bicara tentang lingkungan hidup dari Prasasti Talang Tuwo ada beberapa hal yang ditemukan tentang nilai – nilai penting tentang keserasian hidup,” ungkap Dr Yenrizal seorang akademisi saat menjadi narasumber di acara diskusi Publik Ngopi Bareng Bung FK di Roca Cafe Palembang, Kamis(5/9/19).

Hal pertama Prasasti itu dikatakan Yenrizal bahwa bicara tentang penataan ruang, tata kelola air semuanya sudah ada di Talang tuwo, dan itu sudah ada di zaman dulu, yang kedua keragaman tanaman, soal komitmen kepemimpinan, tentang kepedulian terhadap semua mahluk hidup sudah ada di prasasti itu.Artinya Sriwijaya sudah membahas itu sudah sejak lama tentang keseimbangan pembangunan dan kepedulian terhadap seluruh ekosistem di Sriwijaya pada masa itu.Kalau kejadian sekarang di Sumsel terjadi seperti kebakaran hutan, kalau dikatakan adakah hubungannya dengan masa lalu, saya jawab iya.

“Saya beranggapan dengan melihat bahwa Prasasti Talang Tuwo itu warisan dari leluhur kita maka kalau kita sekarang berprilaku tidak seperti kata leluhur berarti kita telah mengingkari pendapat leluhur kita dalam bahasa lainnya kualat lah kita,” ucapnya.

Kalau leluhur sudah bicara buatlah pertanian yang ramah lingkungan baik itu tata kelola air dan managemen pengelolaannya. Kemudian jenis tanamannya pun diatur, setidaknya berarti Sriwijaya telah memberikan pengalaman multi kultur dengan banyaknya keragaman tanaman tentang bagaimana cara menjaga keseimbangan ekosistem dan itu mudah – mudahan bisa menjadi sandaran untuk pemerintah daerah bagi langkah mereka menyikapi salah satu permasalahan seperti kebakaran lahan dan hutan.

“Saya harap dari pengalaman ini bisa memulai membuat program – program pembangunan yang semuanya ramah lingkungan terutama pada daerah – daerah yang rawan terbakar, ” jelasnya.

Sejarah Kedatuan Sriwijaya Harus Masuk Dalam Pendidikan Lokal

Apabila menyangkut masalah Literasi, Maspril Aries seorang Penulis menjelaskan saat ini kita sudah kehilangan mata pelajaran sejarah dan sekarang pelajaran itu digabung dengan muatan lokal.Kalau itu memang ada di muatan lokal kenapa tidak di masukkan tentang sejarah yang ada di Palembang difokuskan dengan membesarkan Sriwijaya.

“Itu bukan hanya dalam kelas, tapi bisa juga di dalam kelas seperti mengunjungi museum TPKS, jadi harus didorong seperti itu,” ujarnya.

Dunia literasi di sumsel khususnya di Palembang boleh dikatakan “stagnan” tidak ada regenerasi penulis di Sumsel, kita ambil contoh penulis dari Unsri seperti Prof M Zulian, saat prof sudah di Jakarta adakah tulisan dia muncul di media?.. Tidak ada.. Kita ambil ukuran itu saja, seperti itu gambarannya dan untuk di Sumsel ini sepi peminat literasi.

“Jadi untuk para milineal itu memang harus diajak langsung kelokasi sejarah meskipun sudah berubah, itu namanya pengenalan sejarah selain mereka menerima materi lewat membaca,” terangnya.

Maspril mengatakan tindakan yang harusnya diambil sekarang ini adalah bagaimana menumbuhkan rasa cinta mereka terhadap sejarah salah satunya dengan mengunjungi objek-objek wisata sejarah, bisa perorangan, bisa komunitas dan bisa sekolah, coba seandainya dalam seminggu digilir tiap kelas dilakukan kunjungan ke objek – objek itu, ini kan bisa menumbuhkan kembali minat untuk mencintai sejarah.

Dari museum atau objek wisata sejarah lainnya juga harus mengerti, kalau yang masuk rombongan anak sekolah gratiskan saja tiket masuknya jangan bicara lagi retribusi kalau ada wisatawan baru bicara retribusi tapi kalau untuk pendidikan biarlah digratiskan, sedangkan kalau masalah transportasi tidak ada uangnya dari pihak sekolah, cobalah menggunakan dana BOS untuk di alokasikan ke sana.

“Jadi harus kita dorong, seperti kasus Sriwijaya yang viral itu, isu itu yang harus di manfaatkan dengan hal yang positif, semisal dengan isu itu ajak orang – orang ke museum, agar mereka tau tentang sriwijaya dan kenalkan dengan sejarah, akhirnya mereka mau melangkahkan kaki untuk datang kemuseum,” jelasnya.

Sumsel Butuh Pusat Studi Kedatuan Sriwijaya

Menyikapi berita Sriwijaya yang viral beberapa hari terakhir, Penggiat Literasi Sejarah Lingkungan Sumsel Taufik Wijaya, sebenarnya Sumsel ini butuh pusat studi yang khusus membedah prihal Kedatuan Sriwijaya untuk merawat peradaban Sriwijaya agar tidak ada lagi berita – berita yang kontroversial.

“Sampai saat ini Sumsel belum memiliki ini padahal Sumsel dikatakan pusat Sriwijaya, ironis kan,”tegas Taufik Wijaya.

Menurutnya regenerasi literasi soal Sriwijaya Stagnan bahkan cenderung menurun. “Ini yang harus dijawab bukan soal Sriwijaya fiktif atau tidak, “katanya.

Kemudian soal Pusat Studi Sriwijaya, ini harus didorong untuk dikembangkan ke level kebijakan politik misalkan level perda khusus yang menyangkut Pusat Studi Sriwijaya.

“Studi ini untuk mengembangkan Fisik Sriwijaya sehingga menjadi nyata di Sumsel seperti apa sih, Milenial yang suka wisata kan butuh ini. Majapahit jelas kerajaannya, Sriwijaya bagaimana, “tegasnya.

Pusat Kajian Khusus Sriwijaya Bakal Jadi Masukan Serius DPRD Sumsel

Sementara, Anggota DPRD Sumsel terpilih RA Anita Noeringhati menilai ini bisa jadi masukan serius DPRD untuk jadi pembahasan dan masukan ke Pemprov dengan spirit bersama.

“Polemik Sriwijaya fiktif dan Nyata bisa diambil hikmah agar kita berbenah apalagi Sumsel ikon Sriwijaya,” tutupnya.

About redaktur

Check Also

Tol Lampung – Palembang Diresmikan

VOSMedia, PALEMBANG – Joko Widodo meresmikan langsung tol yang disebut-sebut terpanjang di tanah air, yakni …