Home / SEJARAH / Trik Kedatukan Sriwijaya Jaga Keberagaman

Trik Kedatukan Sriwijaya Jaga Keberagaman

VOSMedia, PALEMBANG – Keberagaman antar umat beragama sebenarnya telah terjadi semenjak zaman Kedatuan Sriwijaya dan didalam bukti sejarah manapun tidak ada satupun yang menyebut perbedaan agama menjadi alasan untuk berperang.

DR. L.R Retno Susanti, M. Hum mengatakan hal itu saat menjadi narasumber Seminar Sehari dengan tema “Bingkai Kebhinekaan Menuju Kedaulatan Sriwijaya” di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS) Palembang.

“Banyak temuan yang mengindikasikan di zaman Kedatuan Sriwijaya itu tentang unsur dari berbagai agama seperti Hindu, Islam, Kristen,” ungkapnya, Rabu (19/6/19)

DR. L.R Retno Susanti, M. Hum

Seperti Candi Bumi Ayu yang mewakil Agama Hindu, Pelabuhan Barus Sriwijaya disitu ditemukan ada komunitas beragama Kristen Nestorian yang sumbernya beliau dapat dari Bambang Budi Utomo walaupun sumber tersebut masih dalam tanda kutip atau belum bisa dipastikan dan juga pernah tertulis Kedatuan Sriwijaya sempat menulis surat pada zaman khalifah supaya menyebarkan agama Islam

Paling tidak dari beberapa sumber tersebut, bisa kita pahami di zaman Kedatuan Sriwijaya memang penguasanya tidak otoriter pada warganya untuk memeluk suatu agama.

“Menurut saya, walau ada disisi lain kerasnya Raja Sriwijaya tentang masalah pajak namun untuk permasalahan Agama luar biasa sekali,” jelasnya.

Sementara itu, Epigrafi Badan Arkeologi Sumatera Selatan, Dr. Wahyu Rizky Andhifani, yang hadir juga sebagai narasumber mengatakan Badan Arkeologi menemukan keberagaman agama itu pada bukti – bukti temuan seperti Prasasti Kota Kapur yang beragama Hindu, contoh lainnya seperti Bingin Junggus disitu ditemukan Arca Budha padahal disitu Agama Hindunya Kental sekali, terbukti ditemukannya beberapa tahun lalu kepala “Kala”.

Dr. Wahyu Rizky Andhifani

“Itulah hebatnya Kedatuan Sriwijaya meski daerah itu di jajah tapi tidak memaksakan untuk masuk agamanya dan demokrasinya main,” terangnya.

Ada hal yang menarik sebenarnya, disaat keberagaman beragama itu muncul sekitar abad ke 9 atau 10, justru konflik muncul bukan dari agama melainkan terjadi dari pemberontak dari dalam Kedatuan sendiri.

“Makanya Datuk Sriwijaya itu siasatnya membuat beberapa prasasti persumpahan yang tujuannya memperingatkan kepada siapapun yang ingin memberontak pada masa itu,” tutupnya.(fly)

About redaktur

Check Also

Kerajaan Sriwijaya Disebut Tahun 1918, Masuk Dalam Politik Etis Kah?

VOSMedia, PALEMBANG – Akhir – akhir ini Kerajaan Sriwijaya mulai ramai dibicarakan, baik itu dari …