Home / EKONOMI / Dampak Kabut Asap Bagi Kesehatan Dan Harapan Penanganan Karhutla di Sumsel

Dampak Kabut Asap Bagi Kesehatan Dan Harapan Penanganan Karhutla di Sumsel

VOSMedia, PALEMBANG – Hutan Indonesia menduduki urutan ketiga terluas di dunia dengan hutan tropis yang menyimpan banyak potensi energi mikrobiologi yang sangat diperlukan dunia dan hal ini merupakan satu prestasi membanggakan mengingat hutan merupakan salah satu pendukung yang sangat penting bagi keseimbangan alam.

Sebenarnya ada tiga fungsi hutan menurut La Ode Muhammad R, ZSL Kuala Sendang Sumatera Selatan, yakni fungsi hutan Lindung, fungsi hutan konservasi dan fungsi hutan produksi, secara kontribusi ekonomi hutan memberikan hutan Indonesia dari tahun 2011 sampai tahun 2017 memberi sumbangsih pada Pendapatan Nasional Bukan Pajak (PNBP) sebesar 20,6 Trilliun.

“Artinya ketika terjadi kebakaran hutan maka sebenarnya kita sudah menghancur keragaman hayati yang ada dihutan dan juga menghancurkan potensi ekonomi yang kita dapatkan dihutan,” ungkapnya, saat menjadi narasumber pada acara Diskusi HLC HMI Cabang Palembang dengan Tema Sumsel Darurat Polusi Asap, di Roca Cafe Palembang, Selasa malam (24/9/19).

Perlu Ada Komitmen Bersama Dalam Menangani Karhutla.

Untuk menangani kebakaran hutan dan lahan menurut La Ode seharusnya didasarkan kepada intergrate planning, atau tentang bagaimana perencanaan yang terintegrasi untuk semua komponen baik itu dinas, baik itu swasta maupun publik itu harus terkoordinasi dengan baik, jadi tidak bisa lagi sifatnya planing yang parsial.

Kemudian, kejadian kebakaran hutan itu ada semenjak tahun 1982 sampai sekarang.Problem utamanya adalah terkait dengan koordinasi, La Ode mengatakan hal itu harusnya direncanakan sejak awal untuk terintegrasi ke semua stakeholder, dan kemudian semua pihak harus punya komitmen yang tinggi dalan mencegah kebakaran hutan dan lahan.

“Semisal sudah ada perencanaan dan strategi, tapi kalau kita tidak punya komitmen, akan sia – sia nantinya, intinya adalah transparansi, partisipasi, bagaimana kemudian kita tegakkan hukum,” jelasnya.

Dirinya berpendapat, kita tidak kan bisa menciptakan kelestarian sumber daya hutan tanpa kita sendiri melakukannya, dan mampu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dalam perspektif kebakaran hutan, harus kita mulai dari tingkat desa, kita berikan peran pada mereka.

“Untuk pemadaman dengan metode water booming itu anggarannya 200 juta, itu efeknya tidak terlalu baik, itu dalam satu tahun ini hampir 1 triliun lebih,” jelasnya.

“1 triliun ini kalau kita gunakan untuk masyarakat di tingkat desa, dibangun desa yang hijau, generasi yang hijau lalu produk – produk, yang hijau saya pikir itu lebih bermanfaat, dan berikan tanggung jawab mereka untuk pelestarian hutan dan pencegahan kebakaran,”lanjut La Ode.

Titik Api Disumsel, dengan tingkat kepercayaan 70% di Sumsel mencapai 2782 titik.

Sampai per tanggal 24 September 2019,  jumlah titik api atau fire spot di Sumsel dikatakan Adio Safri Ketua Satgas Agraria Muba Sumsel, telah mencapai 2782 dengan tingkat kepercayaan sampai 70% keatas, dengan posisi di peringkat pertama adalah Muba, kemudian OKI, Banyuasin, Muratara, dan yang terakhir Ogan Ilir.

Dan Kondisi ini menjadi ironi dan harus disedihkan bagi kita semua, namun inilah faktanya, sampai akhir tahun ini, hal itu harus terus dibicarakan sampai ada upaya yang bisa mencegah agar tak terulang lagi.

Menurut data yang di milikinya, dari 2782 titik api itu, kalau bicara fungsinya titik itu terbagi dikawasan hutan 50% dan non hutan 50%, berada di area gambut 66% dari 2782 titik, sisanya 44 % lagi adalah mineral, jadi indikasinya adalah lahan gambut, sedangkan Fire spot pada konteks di lahan yang berizin dan tidak berizin, firespotnya yang berada di izin perkebunan mencapai 21% , konsesi kehutanan 24%, tidak berizin ada 55% yakni ada faktor di area kebun rakyat.

“Saya simpulkan hal itu dipengaruhi oleh, konteks tata kelola hutan yang masih buruk di Sumsel terkait pengalaman di lapangan tentang kebijakan itu masih lemah,” terangnya.

Kemudian karena validasi data yang cukup lemah, pengawasan dan penegakan hukum yang lemah, Transparansi dan keterbukaan informasi yang cukup lemah, sampai kepada lemahnya Koordinasi untuk pencegahan dan pengelolaan kawasan hutan dan lahan gambut, yang dirasanya selama ini bergerak masing – masing.

Lahan Gambut Kalau Terbakar Sulit Dipadamkan

Terkait masalah gambut, Sekretaris Tim Revitalisasi Gambut Daerah (TRGD) Sumsel ,Eko Agus Sugianto, lahan itu dikatakan Gambut kalau di lihat dalam peraturan menteri Lingkungan Hidup kedalamannya lebih dari 50 cm baru bisa dikatakan lahan itu disebut lahan gambut, jadi yang masuk dalam lahan di sepanjang area jalan tol Palindra yang terbakar itu belum masuk dalam kategori lahan gambut ini yang mesti diluruskan dari persepsi kita.

TRGD itu sebenarnya bertanggung jawab kepada restorasi lahan gambut, karena terjadi kerusakan ekosistem di lahan gambut dengan cara remente (pembasahan) dengan cara pembuatan skat kanal yang fungsinya menahan laju air dan membasahi gambut, kalau tidak dibasahi selain ekosistem akan rusak, Gambut ini akan mudah terbakar.

“Kalau gambut sudah terbakar seperti yang kita lihat saat ini jadi seberapa banyak water booming yang dilakukan tidak akan bisa memadamkan kalau gambut sudah terbakar, karena gambut itu ada api permukaan dan api daerah dalam, waterboombing itu hanya memadamkan api permukaan, padahal yang berbahaya itu api dalam karena kedalamnya variatif bisa mencapai kedalaman 10 meter, sedangkan dipermukaan hanya beberapa cm saja,”terangnya.

Program kedua yang dilakukan pihaknya adalah revitalisasi dengan memberikan bantuan ekonomi kepada masyarakat sekitar, gunanya agar mereka bisa mengelola lahan gambut tanpa bakar, dan kalau pun terjadi kebakaran masyarakat bisa berpartisipasi aktif untuk memadamkan atau mencegah kebaikan itu sendiri, cuma masalahnya slot ini terbatas ditahun 2019 ini kita cuma 18 Desa.

Ketiga yakni program penanaman kembali, dimana lahan gambut yang terbakar tersebut ditanami tumbuhan agar ekosistemnya kembali seperti semula awal dibutuhkan waktu puluhan tahun.

“Kalau ada area terbakar, kita lakukan pembasahan disamping area terbakar tersebut gunanya agar api terlokalisir, dan area yang sudah terbakar kita masukan air untuk membasahi gambut didalam sehingga bisa meminimalisir lahan didalam yang terbakar walaupun tidak terbakar secara seluruhnya,”tuturnya.

Empat Faktor Unik Yang Pengaruhi Iklim Indonesia

Ditempat yang sama, Kepala Stasiun Klimatologi kelas 1 BMKG Sumsel, Nuga Putrantijo mengatakan ada 4 faktor unik utama yang mempengaruhi iklim di Indonesia, seperti angin muson, kondisi bagaimana suhu muka laut di Indonesia, La Nina dan El Nino yang menyebabkan kenaikan atau penurunan temperatur permukaan laut Samudera Pasifik Ekuatorial tengah dan timur, kemudian adalah “Dipol Mode” yang menyebabkan beda temperatur permukaan laut Pantai Timur Afrika dan Pantai Barat Sumatera.

Kebetulan di wilayah Sumsel, bencana yang sering dirasakan adalah kekeringan dan itu ada kolerasinya dengan kebakaran hutan dan lahan, perlu untuk diketahui BMKG sudah merilis dua kali prakiraan musim, yakni prakiraan musim kemarau diterbitkan bulan Maret, dan prakiraan musim hujan yang terbitnya Agustus, khusus di Sumsel BMKG telah merilis bulan Maret bahwa, prakiraan Puncak musim kemarau terjadi di bulan Agustus sampai September 2019, pada waktu itu Gubernur Sumsel langsung menerbitkan Satgas Darurat Karhutla, berarti respon sudah sangat bagus.

“Intinya bahwa walaupun belum musim kemarau, pemprov Sumsel sudah mengantisipasi dengan membentuk satgas untuk persiapan menghadapi musim kemarau,” ungkapnya.

Salah Satu Parameter Bencana Kebakaran Adalah Musim Kemarau

Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumsel, Aripandi mengatakan kalau dilihat dari sisi lingkungan hidupnya yang dikaitkan dengan kebakaran hutan, salah satu parameter kebakaran adalah musim kemarau, kemudian sumber parameter yang lain, timbul titik api kemudian terjadilah kebakaran dan DLH Sumsel secara tugasnya ada dua peran yang dilakukan yakni tugas untuk melaksanakan evaluasi pelaksanaan pencegahan kebakaran dari para pemegang konsesi dan memonitor tingkat kualitas udara yang setiap hari publikasikan.

Tugas yang pertama dilakukan sifatnya di awal tahun bagaimana dunia usaha melakukan pengelolaan lingkungan dalam aksi pecegahan kebakaran, komponennya adalah bagaimana dunia usaha itu melakukan persiapan dalam hal ini segi alat, segi managemen, SOP dan dalam segi Sosial, disana ada semacam pedoman, sehingga kita bisa melaksanakan evaluasi walau tidak bisa dilaksanakan secara menyeluruh karena keterbatasan sumber daya.

“Dari hasil evaluasi, secara singkat saya katakan, sebagian lebih kurang 20% sudah baik, sekitar 30% sedang sampai baik, yang 30% lagi tidak menyampaikan laporan, sisanya di tingkat kurang sampai tidak baik,” urainya.

Artinya dari hasil statistik evaluasi tersebut, memang ada perusahaan yang nilainya sangat baik, tapi ada juga yang tidak peduli sama sekali.

Dan tugas kedua adalah dalam monitoring dalam hal ini pemasangan alat parameter kualitas udara perhari selama 24 jam seperti yang bisa di lihat di simpang lima DPRD Sumsel dan kantor DLH, dimana parameter udara ini menjadi patokan

“Seminggu ini kualitas udara menurun, dan puncaknya 2 hari yang lalu dalam level berbahaya, sehingga kemarin kota Palembang mengambil kebijakan untuk meliburkan anak – anak sekolah, karena kalau dipandang dari sisi kesehatan itu sangat berbahaya,” terangnya.

Berdayakan Masyarakat Desa Untuk Pencegahan Karhutla

Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Sumsel Bidang Hukum dan Politik, Permana, menjelaskan kalau seandainya kita bisa berpedoman pada 5 M (Man, Metode, Money, Material, Mesin) berangkat dari hal itu perangkat yang dimiliki Sumsel sudah lengkap.Dari segi peraturannya cukup, dari segi perlatan cukup, manusia ahlinya ada, keuangannya ada, namun fungsi koordinasi memang masih dirasa lemah.

“Saya bekerja duhulunya di wilayah transmigrasi selama 26 tahun, kebiasaan atau budaya yang dilakukan transmigran dan para kontraktor untuk membuka lahan yakni dengan cara tebang, tebas, rencek, bakar kemudian tanam,” terangnya.

Kebakaran hutan ini sebenarnya penyakitnya sudah tahu, karena budaya masyarakat kita mengunakan pola seperti itu, baik itu di Kalimatan, Sumatera dan cuma Sulawesi lebih maju karena lahan hutannya mengecil diganti dengan lahan pertanian.

“Bicara siapa yang salah?,  ya ini salah kita semua, bagaimana untuk meng “itergreted” kan the man of Power, supaya kita lebih sinergis, hal inilah yang sangat sulit untuk kita untuk melakukan koordinasi,” ungkapnya.

Dalam penangan kebakaran, kita perlu untuk merapatkan barisan,  tapi yang paling penting adalah yang berada di lini terdepan yakni masyarakat desa karena mereka yang lebih tahu daerahnya, dirinya berpendapat apabila karang taruna dan pemuda – pemuda yang ada di desa itu, dua bulan sebelum kejadian bulan Puncak kemarau, coba kalau Pemerintah dari berhak untuk mengusulkan anggaran, pemuda – pemuda tersebut dikasih honor paling tidak 1 juta perbulan, karena mereka dan perangkat desanya tahu titik – titik api tersebut.

“Saya yakin, dengan pemberdayaan seperti itu akan lebih jauh bermanfaat, sosialnya dapat, mata pencaharian dapat dan tahu mereka cara mematikan api di daerahnya, kalau untuk perusahaan saat dia berinvestasi dipenanaman modal, disitu ada pertanggung jawaban terhadap lingkungan,” jelasnya.

Komponen Dalam Kabut Asap Bisa Menyebabkan Integensia Menurun

Selain Pm10, Salah satu zat didalam kabut asap itu adalah karbon monoksida, hal itu dikatakan oleh Direktur RSUD Banyuasin dr. Ari Fauta, kalau di analogikan sekejam – kejamnya Pelakor masih kejam Karbon monoksida, kenapa seperti itu, karena didalam tubuh kita ada sel darah yang fungsinya mengangkut oksigen keseluruh tubuh, jadi apabila kita bernafas sel darah akan mengedarkan oksigen keseluruh pembuluh darah, apabila ada komponen karbon monoksida maka sel darah tidak akan mengangkut Oksigen ke pembuluh darah.

Komponen kedua adalah Sulfur Dioksida dimana fungsinya untuk mengkikis dinding lapisan, apabila kita sering terhirup maka hal yang pertama kita akan merasa tidak nyaman pada tenggorokan, jadi kalau kita merasa tidak nyaman di tenggorokan pada saat kabut asap itu bisa jadi komponen Sulfur Dioksida sudah masuk dalam tubuh.

Ketiga adalah Nitrogen monoksida, ini bisa meningkatkan mobilitas termia paru – paru jadi apabila didalam tubuh kita dimana mengalami alergi yang banyak seperti terkena asam, maka zat ini akan memacu terjadinya hal tersebut dan komponen terakhir adalah Ozon, fungsinya untuk melindungi kita dari sinar UV tetapi karena dampak asap lapisan Ozon turun dan akan menyebabkan masalah kesehatan, seperti mata menjadi kering dan perih.

“Bicara dampak asap terhadap kesehatan memang sekarang tidak kelihatan akibat dampak dari asap tersebut, tetapi kita tidak tahu generasi mendatang karena komponen-komponen itu akan berpengaruh pada sistem kerja otak manusia, sehingga apabila kita terus menerus menghirup kabut asap maka intelegensia yang kita miliki akan menurun,”tutupnya.(fly)

About redaktur

Check Also

DPRD Palembang Setujui RAPBD 2020

VOSMedia, PALEMBANG – Dalam Rapat Paripurna ke tiga, masa persidangan I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah …